‘Banyak hal yang tertunda. Hilang arah. Akan melangkah kemana? Memulai darimana? Berbuat apa? Benar – benar stagnan kehidupanku. Roda waktu dengan sombong tetap berputar. Tak mampu ku menahan laju matahari. Aku tergilas dan selalu begitu.’ ‘Siapa kiranya yang akan menolongku? Kau? Dia? Mereka? Entahlah. Tuhan? Aku hanya bisa berdoa dalam diamku. Meski terkadang tak kusembunyikan rasa syukur dan cacian padaNya. Itulah aku.’ ‘Ternyata sangat membosankan dengan keadaan ini. Diam tak ada kesibukan yang berarti. Siapa yang perduli dengan keadaanku? Kau? Dia? Mereka? Tak ada seorangpun. Tuhan? Entahlah aku juga mulai meragukannya sekarang.’ ‘Kau? Aku berharap kau mengerti dan peduli keadaanku saat ini. Ekpektasiku saja yang selalu membuatku bahagia. Kenyataannya? Aku tak mampu menjelaskannya. Apakah kau adalah o...
Kepada senja, Ada saatnya seseorang berangkat dan ada saatnya seseorang harus pulang. Dan diantara keduanya adalah perjalanan. Aku telah menggambar setiap senja. Senja yang merah. Senja yang memulangkan unggas ke sarang-sarang. Senja yang mengembalikan aku pada gelap. Senja yang mengembalikan aku pada rumah. Yang sesungguhnya tak ingin kusinggahi. Tapi ada suatu ketika seseorang harus pulang bukan? Pada rumah aku pulang dan pada gelap. Yaah pada gelap, ternyata aku berangkat. Dan inilah kisa perjalanku. Menjemput gelap. . . Langit, Untuk semua gelap ini aku tidak ingin kau tahu. Meskipun kita dipertemukan oleh senja yang sama. Aku tahu, kau akan memburunya, dari cakrawala ke cakrawala. Lalu kau kirimkan senja-senja itu padaku. . . Aku, Aku adalah senja. Aku berangkat dari terang menjemput gelap. Pada tiap ketikanya, hatiku lebam warna lembayung. Dan mengertikah kau ini semua langit? Disaat kita bertemu pertama kalinya. Kala kita bertengkar merebut ...
Komentar
Posting Komentar